28/11/11

KONDISI LINGKUNGAN HIDUP SURABAYA


Kondisi Lingkungan Hidup di Surabaya

Dikawatirkan akan terjadi penurunkan daya dukung lingkungan terhadap kehidupan di Kota Surabaya hal ini disebabkan oleh semakin memburuk kondisi lingkungan Kota Surabaya lima tahun ini. Kondisi yang, sumber air minum terkontaminasi limbah industri dan bakteri, gas Karbonmonoksida bercampur dalam udara yang kita hirup bahkan setiap tahun rata-rata hanya 36 hari kita dapat menikmati udara sehat, menyusul masalah sampah, tataruang kota dan ketersediaan lahan terbuka hijau antri untuk segera ditangani.
Surabaya Makin Panas
Sebagai tempat tinggal, Surabaya tidak dapat dikategorikan cukup layak. Hal ini ditandai dengan perbedaan yang mencolok antara suhu di siang hari yang sangat panas dengan suhu malam hari yang turun sangat rendah.
Perbedaan suhu juga sangat terasa antara satu bagian wilayah kota dengan bagian lain. Selain itu muncul juga kecenderungan terjadinya kutub panas di beberapa lokasi seperti Jalan Didepan Plasa Tunjungan, Kawasan Pasar Turi dan Jl. Pahlawan suhu siang hari dapat mencapai 41 °C sedangkan suhu terendah mencapai 26 °C. Polusi udara juga sangat terasa di Surabaya . Semakin memanasnya suhu Kota Surabaya disebabkan tingginya gas emisi (komposisi gas-gas dan senyawa buangan yang dibuang keudara bebas) yang dilepas ke udara. Sumber emisi terbesar berasal dari karbon monoksida (CO) 5.480.000 ton/tahun, partikulat (Pb, Zn, Cu dan Cd) 622.560 ton/tahun, hidrokarbon 310.000 ton/tahun disamping emisi lain seperti Nox dan Sox Emisi pencemar jenis Partikulat (Pb, Zn, Cu & Cd)berjumlah 622.560 ton/tahun bersumber dari Industri & transpostasi. Sedangkan emisi Karbon Monoksida(CO) sebanyak 5.500.000 ton/tahun sumber Transportasi (96%) , untuk emisi pencemar NoX dan SoX sebesar 10.000ton/tahun dihasilkan sector industri (88%), dan Hidrokarborn yang bersumber dari transportasi memberikan kontribusinya 310.000 ton/tahun. Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa penyumbang emisi terbesar adalah sektor transportasi (96%), hal ini didukung oleh meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di Surabaya dari tahun ketahun. Dalam laporan World Bank Report yang berjudul Indonesia : Energy and Environment yang terbaru pencemaran udara akan melonjak dua kali lipat pada tahun 2000 dari jumlah yang ada pada 1990, meningkat lima kali lipat pada tahun 2010 dan sembilan kali lipat pada tahun 2020. Tanpa adanya kebijakan yang kongkret untuk membirukan langit Surabaya maka tidak aneh apabila suatu ketika kita keluar rumah dengan menggunakan masker pengaman karena banyaknya emisi beracun yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernafasan. Sehingga pertanyaannya tidak hanya apakah Surabaya makin panas ? tetapi Layakkah/amankan Udara Surabaya bagi manusia
Pemerintah kota Surabaya belum dapat memberikan Jaminan udara yang sehat untuk dikonsumsi oleh warga kota Surabaya.
Status Kelaikkan Untuk Dikonsumsi (hari)
Sehat Sedang Tidak Sehat
2001 27 272 7
2002 40 314 11
2003 44 75 1
Keterangan = (2003 bulan Januari-April)
Dari data diatas menunjukkan bahwa udara sehat yang layak konsumsi dalam eetahunnya tak lebih dari 10%, rendahnya kualitas udara sehat yang dapat dinikmati. Udara kota Surabaya sudah terkontaminasi Karbon Monoksida (CO), Hidrokarbon (HCO).
Rehabilitasi RTH


Di Surabaya keberadaan RTH luasnya tinggal 69.349 m2 dengan rincian sebagai berikut 1. Taman Bungkul : 11.090 m2, 2. Taman Apsari : 5300 m2, 3. Taman Surya : 10.000 m2, 4. Taman Ade Irma Suryani : 9149 m2, 5. Taman Flora Manyar : 33.810 m2 Padahal dengan luas wilayah 32.636.768 ha selayaknya Surabaya memiliki ruang terbuka hijau seluas 4.895.152 ha. Sebagian besar luas total tanah di Surabaya (90% lebih ) merupakan lingkungan terbangun (50% pemukiman, 30%Industri, 20%Fasilitas umum) 10 % sisanya merupakan kawasan yang belum terbangun. Kawasan Lain yang termasuk RTH adalah taman kota, taman kota, hutan kota, jalur hijau, halaman rumah, perkantoran, dan pusat bisnis, serta kebun binatang. RTH berfungsi sebagai filter udara dan daerah tangkapan air, dan mengurangi kadar zat pencemar udara serta menambah kenyamanan kota. Hasil penelitian Puslitbang Nasional, menunjukkan bahwa tanaman-tanaman yang terdapat di RTH dapat mereduksi polusi udara sekita 5 hingga 45%.Yang RTH juga sangat efektif mengurangi efek-efek climatological heath pada lokasi pemusatan bangunan tinggi yang berakibat pada timbulnya anomali-anomali pergerakan zat pencemar udara yang berdampak destruktif baik terhadap fisik bangunan maupun mahluk hidup.
Untuk Upaya rehabilitasi RTH harus diperhatikan jenis dan keragaman vegetasi yang ditanam disarankan untuk memprioritaskan pohon-pohon yang memiliki daya dukung terhadap pengurangan polusi udara terdapat lima jenis pohon itu bisa mengurangi polusi udara sekitar 47 - 69%. Mereka adalah pohon felicium (Filicium decipiens), mahoni (Swietenia mahagoni), kenari (Canarium commune), salam (Syzygium polyanthum), dan anting-anting (Elaeocarpus grandiforus). Sementara itu, jenis tanaman perdu yang baik untuk mengurangi polusi udara adalah puring (Codiaeum variegiatum), werkisiana, nusa indah (Mussaenda sp), soka (Ixora javanica), dan kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis).
Manfaat RTH
Penanaman tumbuhan atau vegetasi berkayu dapat memberikan manfaat lingkungan sebesar-besarnya dalam manfaat proteksi, estetika, rekreasi, penghasil O2, dan kegunaan khusus lainya. adalah sebagai peningkat kualitas lingkungan kota dan secara mikro dapat menciptakan kondisi yang nyaman dan ketercapaian keseimbangan antara lingkungan alam dengan lingkungan binaan.Tumbuhan dalam proses hidupnya sangat memerlukan unsur-unsur yang tidak dibutuhkan bahkan beracun bagi manusia sebagai misal dalam proses fotosintesis tumbuhan membutuhkan karbondioksida untuk kemudian diolah dalam daun bersama-sama dengan air dan unsur lain dengan bantuan sinar matahari yang kemudian menghasilkan karbohidrat dan energi sedangkan sebagai sisa pembakaran dikeluarkan oksigen semakin banyak karbondioksida yang ditangkap maka Oksigen yang dikeluarkan akan berlimpah yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Oleh karenanya tidak berlebihan bila keberadaan RTH dikatakan sebagai paru-paru kota. Dengan keberadaan RTH yang ada di Kota Surabaya sekarang ini tidak dapat berfungsi maksimal apabila keberadaannya dibatasi dan cenderung untuk dihilangkan.. Padahal RTH memiliki nilai penting bagi keseimbangan ekosistem dan harmonisasi hubungan antara manusia dan lingkungan diantaranya :
Pertama tumbuhan ini memiliki kemampuan untuk mengakumulasi logam berat Cu (Tembaga), Zn(Seng), Cd (Cadmium), Pb(Timbal/timah hitam), dan Mn (mangan). Karena secara fisiologis unsur-unsur tersebut digunakan hampir semua pohon sebagai katalisator reaksi metabolisme dan berperan pada pembentukan organ tumbuhan. Pohon perindang jalan sepanjang jalan A. Yani sampai Jl Darmo ternyata mampu menyerap polutan 133.856 ppm/daun sampai 159.729 ppm/daun. Semakin banyak pohon yang di tanam di sepanjang jalan ini maka akan membantu menurunkan emisi logam berat di Udara.
Kedua, Pada sore hari di taman Bungkul Jl Darmo sering kita jumpai beberapa ekor burung gereja (Passer montanus) terbang berkelompok, burung sikatan (Collocalia esculata) bertengger di dahan-dahan angsana bahkan di kebun bibit manyar dapat dijumpai burung-burung yang dilingdungi undang-undang seperti burung madu ekor panjang (Nectarinia jugularis) dan burung cabe (Dicaeum trocilum) dari penelitian Ambarwati mahasiswa biologi Unair tercatat 20 jenis burung yang memanfaatkan hutan kota di Surabaya sebagai habitat burung yang dapat berfungsi sebagai tempat bersarang dan berkembang biak, serta sumber makanan. Ditemukannya 20 jenis burung di taman-taman kota ini memberikan indikasi bahwa keberadaan RTH dapat menciptakan iklim mikro yang dapat menunjang kehidupan makhluk hidup lainnya.
Ketiga, Memberikan pengaruh positif pada kesehatan manusia, RTH itu juga melepaskan anion (ion negatif) lebih besar ketimbang kawasan tanpa pepohonan. Data menunjukkan, konsentrasi anion terbesar bisa ditemukan di hutan rimba atau air terjun, yakni sebesar 50.000 ion per cc (sentimeter kubik) udara. pinggiran kota dan tempat terbuka 700 – 1.500 ion per cc, taman kota 400 – 600 ion per cc, jalur hijau di dalam kota 100 – 200 ion per cc, perumahan dalam kota 40 – 50 ion per cc, dan yang terkecil di dalam ruang ber-AC yakni 0 – 25 ion per cc. Anion memberi pengaruh baik bagi kesehatan karena dapat membunuh dan menghentikan aktivitas bakteri; mengurangi penyakit pernapasan lantaran berfungsi mengaktifkan gerakan bulu getar hidung, melebarkan saluran napas, menjaga peredaran darah normal, dan mengurangi kecepatan pernapasan; menaikkan kemampuan menyerap dan memanfaatkan oksigen, mengaktifkan pembaharuan sel dan meningkatkan fungsi pertahanan tubuh; serta menghilangkan kelelahan. Yang terakhir ini karena anion akan menguraikan asam laktat penyebab rasa lelah menjadi air dan ion laktat.
Ketiga. Pengelolaan RTH yang profesional dapat melahirkan suatu lokasi yang menyuguhkan unsur refreshing dan wisata bagi pengunjungnya, keberagaman pohon dan satwa yang ada juga memiliki unsur pendidikan lingkungan yang orisinal, sehingga tidak berlebihan bila hutan kota dapat dikemas menjadi sebuah tempat ekowisata (Objek wisata dengan mengenalkan unsur interaksi lingkungan).
Selain itu keberadaan pohon-pohon diperkotaan mutlak diperlukan, Pohon-pohon dalam lingkungan kehidupan perkotaan memberikan nuansa kelembutan. Perkembangan kota lazimnya diwarnai dengan aneka kekerasan, dalam arti kiasan kekerasan sedikit banyak dapat dilunakkan dengan elemen air atau pepohonan.
Dengan mempertimbangkan besarnya manfaat RTH seharusnya tidak ada alasan Bagi Pemkot untuk segera mengalihfungsikan 13 SPBU menjadi Ruang Terbuka Hijau, kami menunggu.

0 komentar:

Poskan Komentar | Feed

Poskan Komentar

Mengatakan :



Adsense Sesat !

Music Sesat !

Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info
 

Negara - Negara Sesat !

Status Blog Sesat !

Letak Orang Sesat !

Sepdhyo Wahyu's Blog Copyright © 2009 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER